Seminar Sosialisasi Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kerjasama Bidang Pendidikan DWP Pusat dengan Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

November 29, 2017 1 Comment

Dharma Wanita Pesatuan Pusat bekerjasama  dengan Direktorat Pembinaan Khusus dan Layanan Khusus Direktur Jenderal  Pendidikan Dasar dan Menengah  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, telah melaksanakan kegiatan ‘’ Sosialisasi Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus “ pada  hari  Rabu, 20 September 2017 bertempat Lantai 1 Gedung DWP Pusat Jl. Pedurenan Masjid Kav F.01, Karet Kuningan Jakarta Selatan,  dan dihadiri oleh 185 orang peserta yang terdiri dari Pengurus DWP IPP, guru SLB dan orang tua siswa

Acara dibuka dengan laporan oleh Ketua Panitia Ibu Ike Agus Salim. Dalam Laporannya Beliau mengatakan tujuan diadakan acara Sosialisasi Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus adalah mendorong partisipasi peserta dan memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus agar dapat menjadi mandiri juga mewujudkan perluasan pendidikan melalui pendidikan di sekolah atau lembaga pendidikan.

 

 

 

 

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan sambutan Ibu Wien Ritola Tasmaya selaku Ketua Umum DWP.     Pendidikan adalah  hak  seluruh lapisan Warga Negara Indonesia,  tanpa mengenal perbedaan agama, suku, dan ras dilingkungan masyarakat. Ada orang tua yang mempunyai Anak Berkebutuhan Khusus merasa malu untuk menyertakan  anaknya  sekolah padahal banyak anak berkebutuhan khusus mempunyai kemampuan yang bagus sehingga harus kita sampaikan kepada orang tua mempunyai anak berkebutuhan khusus tidak perlu merasa malu,  sehingga anak tersebut dapat dibanggakan dan dikembangkankan potensinya

 

Pembicara pertama, Dra. Poppy Dewi Puspitawati,  menyampaikan makalah dengan judul “Kebijakan dan Program Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus”.  Dalam paparannya Ibu Poppy mengatakan populasi penyandang disabilitas  2,45 %  dari jumlah penduduk Indonesia ( 6.002.500 orang ) sedangkan populasi penyandang disabilitas usia sekolah  25 %  dari populasi penyandang disabilitas      ( 1.500.625 orang).

Tantangan pendidikan di SLB adalah belum adanya data penyandang disabilitas usia sekolah yang tersedia karena keterbatasan akses, belum seluruh kabupaten/kota memiliki SLB, kurangnya kesadaran orangtua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)  tentang penting dan manfaatnya pendidikan bagi penyandang disabilitas.

Sedangkan tantangan pendidikan berkebutuhan khusus adalah keterbatasan sekolah penyelenggara program tersebut, dan masih ada penolakan dari orang tua non penyandang disabilitas, belum merata dan maksimalnya dukungan pemangku kepentingan didaerah provinsi/kabupaten/kota terhadap program pendidikan inklusif (Anak Berkebutuhan Khusus) , belum optimalnya pendataan anak ABK di sekolah reguler, terbatasnya ketersediaan guru pembimbing khusus di sekolah regular dan belum terealisasinya amanat UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas à Unit Layanan Disabilitas

 

Materi kedua dibawakan oleh  Ir. Sri Renani Pantjastuti, M.P.A., dengan tema Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan Layanan Kebutuhannya. Dalam paparannya  Ibu Sri mengatakan  anak berkebutuhan khusus dibagi menjadi dua : ABK Permanen yaitu  anak yang menyimpang dari kriteria rata­rata atau normal secara bermakna baik dalam karakteristik intelektual, sensoris, neuromotor/fisik, peri­ laku sosial, dan kemampuan berkomunikasi atau gabungan dari keduanya atau lebih variabel dan ABK Temporer adalah mereka yang kurang beruntung dikarenakan faktor ekonomi, geografis, budaya, perbedaan etnik, dan kondisi­kondisi kebencanaan yang mengakibatkan mereka sulit untuk mendapatkan layanan pendidikan bermutu yang sesuai dengan standar nasional pendidikan

 

 

Penyebab Anak Berkebutuhan Khusus Permanen diantaranya faktor genetik (Rhesus darah),  faktor penyakit (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes),   zat bilirubin melebihi batas,  lahir prematur/ berat badan lahir rendah, kelahiran dengan resiko tinggi atau faktor lain yang tidak diketahui.  Sedangkan untuk Anak Berkebutuhan Khusus Temporer diantaranya disebabkan oleh bencana alam, ekstrim miskin dari segi ekonomi, konflik sosial, konflik politik dan kondisi geografis yang tidak menguntungkan

Untuk mengetahui anak berkebutuhan khusus yang permanen melalui proses deteksi dini di pusat layanan tumbuh kembang anak rumah sakit, posyandu, atau sekolah khusus/SLB terdekat sedangkan untuk mengetahui anak berkebutuhan khusus yang temporer melalui identifikasi dan asesmen, kondisi dan kebutuhan. 

 

 

Acara ditutup oleh Prof. Dr Bapak Hafid Abbas,  membawakan materi “Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas”.  Penyandang cacat secara kuantitas cenderung meningkat. Oleh karena itu, perlu semakin diupayakan peningkatan kesejahteraan sosial bagi penyandang cacat.  Sebagian  besar penyandang disabilitas di Indonesia hidup dalam kondisi rentan, terbelakang, dan/atau miskin disebabkan masih adanya pembatasan, hambatan, kesulitan, dan pengurangan atau penghilangan hak penyandang disabilitas.

 

 

 

*Penulis Ella K

Sumber: Bidang Pendidikan DWP Pusat

 



Share this Story


About the Author


Join Discussion